Mading Digital

HARGA SEBUAH NILAI A : KETIKA MENJADI 'AMBIS' ADALAH SATU-SATUNYA PILIHAN UNTUK BERTAHAN

Foto Penulis
Ditulis oleh
Suci
10 July 2026
HARGA SEBUAH NILAI A : KETIKA MENJADI 'AMBIS' ADALAH SATU-SATUNYA PILIHAN UNTUK BERTAHAN
Harga Sebuah Nilai A : Ketika Menjadi ‘Ambis’ Adalah Satu-Satunya Pilihan untuk Bertahan Oleh : Tim Redaksi Web Mading Profil Narasumber : Nama: Wini Maharani Kelas : 12 B (Kesehatan ) 1 Sekolah : SMA Negeri 1 Waled Jam digital di sudut kamar menunjukkan pukul 23.45 WIB. Di saat sebagian orang sudah terlelap, Wini Maharani, siswi kelas 12 B (Kesehatan) 1, masih menatap layar laptopnya dengan serius. Baginya, pemandangan paruh malam seperti ini bukan lagi hal yang asing, melainkan bagian dari rutinitas bertahan hidup di tengah gempuran tugas tengah semester. Kultur menjadi anak "ambis" di sekolah sering kali dipandang sebelah mata. Ada yang menganggapnya berlebihan, ada juga yang menjadikannya bahan sindiran. Namun, jika kita melihat lebih dalam dari sudut pandang seorang Wini, menjadi ambis bukan tentang pamer nilai, melainkan sebuah perjuangan dan pilihan sadar untuk tidak tertinggal. Disiplin yang Berbatasan dengan Rasa Lelah Bagi Wini, begadang demi tugas sudah menjadi makanan hampir setiap hari dalam seminggu. Namun, berbeda dengan mitos anak ambis yang belajar sampai subuh tanpa jeda, Wini punya batas sakral yang tidak boleh dilanggar demi menjaga fisiknya. "Jam tidur maksimal aku tuh jam 12 malam. Kalau belajar atau ngerjain tugas belum selesai juga, tetap aku berhentiin dan langsung tidur," ungkapnya. Pilihan ini diambil karena aturan sekolah yang sangat ketat: gerbang dikunci pukul 06.15 WIB, yang membuatnya harus sudah terjaga sejak jam 4 pagi. Risikonya? Tentu saja rasa lelah yang luar biasa saat fajar menyingsing. "Pas di kelas rasanya tuh pusing karena kurang tidur," curhat Wini. Paling baru curi-curi waktu tidur pas jam kosong atau jam istirahat. Bahkan kadang enggak bisa tidur sama sekali di sekolah karena banyaknya tugas yang tenggat waktunya mepet dan barengan." Rasa Bersalah dan Siasat Menjinakkan Burnout Belajar berjam-jam sampai larut malam memang melelahkan dan rentan memicu burnout (stres berat hingga mati rasa). Wini pun menyadari hal itu. Namun, siswi kelas kesehatan ini punya cara cerdas untuk mengakalinya, yaitu dengan metode belajar yang terstruktur. "Aku pakai teknik Pomodoro, yang 25 menit belajar dan 5 menit istirahat. Itu solusi banget biar otak enggak burnout," jelas Wini. Menariknya, ketika ditanya mengapa dia tetap konsisten melakukan rutinitas seberat ini, jawabannya sangat menyentuh sisi psikologis seorang pelajar. "Kalau enggak belajar semalam aja, rasanya kayak ngerasa bersalah sama diri sendiri. Mungkin karena belajar sudah jadi rutinitas aku setiap hari," akunya jujur. Sebagai siswi yang juga aktif mengikuti perlombaan cerdas cermat dan olimpiade, fase lelah mental total tetap tidak bisa dihindari. Selesai berkompetisi biasanya menjadi momen terberat bagi motivasinya. "Di fase itu, aku bener-bener malas belajar. Solusinya, aku ambil waktu seminggu buat istirahat dulu dan enggak belajar malam. Paling cuma ngerjain tugas sekolah yang wajib aja. Begitu otak udah ngerasa fresh, baru lanjut rutinitas belajar malam kayak biasa lagi." Belajar Pintar dengan Manfaatkan Teknologi Sisi menarik lainnya dari Wini adalah caranya memanfaatkan teknologi modern secara bijak. Alih-alih menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menyontek atau mencari jalan pintas, dia justru menjadikannya sebagai mentor pribadi untuk menguji kemampuannya. "Biasanya aku pakai Gemini atau ChatGPT untuk buatin soal-soal latihan setelah aku paham materinya. Kalau buat penjelasan materinya sendiri, aku lebih suka nonton lewat YouTube," tuturnya. Ini adalah bukti nyata dari istilah study smarter, not harder. Pesan untuk Kita Semua Dari kisah Wini Maharani, kita belajar bahwa di balik nilai A yang tertera di kertas rapor, ada manajemen waktu yang ketat, rasa pusing yang ditahan di pagi hari, dan perjuangan melawan rasa bersalah pada diri sendiri. Menjadi ambis bukanlah sebuah kesalahan atau bahan untuk disindir. Itu adalah bentuk tanggung jawab seorang remaja terhadap masa depannya. Namun, kisah Wini juga mengingatkan kita semua : ambis-lah dengan cerdas, kenali batasan tubuhmu, dan jangan ragu untuk mengambil jeda saat otakmu mulai lelah. Karena pada akhirnya, kesehatan mentalmu jauh lebih berharga daripada angka di atas kertas.

💬 Obrolan Siswa