Mading Digital

BUKAN TUJUAN AKHIR

Foto Penulis
Ditulis oleh
Suci
25 July 2026
BUKAN TUJUAN AKHIR
BUKAN TUJUAN AKHIR Karya : Avril Alviyandi Dari ujung rak nomor sembilan suara isak tangis terdengar sendu, ia menangis lebih kencang daripada suara tikus di bawah rak kayu yang sudah terkikis dimakan rayap, membuat buku-buku di rak lain merasa gelisah di tengah tidur pulasnya. "Oh Tuhan.... Setelah kusediakan tulisan yang akan memperluas pikirannya, mereka malah membalasnya dengan menyakiti bagian-bagian dariku. Ini sungguh tidak adil! Mereka jahat sekali," ratap Roman. Ia adalah sebuah buku bergenre romantis klasik yang hanya dipajang hampir tiga tahun. Buku itu akhirnya berlabuh di tangan pembaca, tetapi kembali ke raknya dalam kondisi yang memprihatinkan. Bagi sebuah ruangan yang dibangun dari beton dan tumpukan kertas lapuk di sudut sekolah menengah ini, waktu tidak dihitung dari detak jam dinding, melainkan oleh ketebalan debu. Kesepian yang mendalam mendasari informasi penggusuran perpustakaan ini yang pengumumannya sudah tertempel jelas di jendela yang sudah memburam dari pandangan. Deru angin musim kemarau terasa menusuk lewat pentilasi yang lubang-lubangnya sudah dipenuhi sarang laba-laba, menggandeng aroma tanah gersang dan sayup-sayup riuh para siswa saat jam istirahat. Mereka hanya melewati ruangan ini. Beberapa ada yang singgah hanya untuk berlindung diri dari terik matahari. Sering kali dari mereka sedikit yang menjamah bacaan, hingga kini hampir semua sampulnya telah lapuk termakan debu yang aromanya bahkan membuat pernapasan ikut terhambat. "Astaga! Inikah yang mereka lakukan padamu? Tidakkah kau kesakitan? Apa halamanmu berkurang?" Sari ikut memperhatikan bagian-bagian yang robek dari halaman Roman. Ia berusaha mencari cara agar tangis Roman tidak berlanjut lebih kencang yang bisa membangunkan para penduduk jejeran rak-rak kayu yang telah lama tak dijamah pembaca. Namun, kemalangan Roman lebih menyakitkan. Buku resep masakan tradisional itu lebih khawatir dengan ketebalan buku lain dibandingkan dengan tebal tubuhnya yang bahkan tidak mencapai dua sentimeter. Di tengah tangisan Roman, sebuah seruan terdengar memekik di sudut rak. "Ada apa ini, berisik sekali? Apa akhirnya perpustakaan ini digusur?" Kalkulus, buku tua yang ketebalannya bisa membawa banyak perubahan pada pikiran pembaca untuk menciptakan hal-hal yang berguna di kehidupan. Ia bergerak limbung membawa badannya yang bisa tergeletak kapan saja. "Apa aku terlalu lama tidur?" tanyanya pada diri sendiri. "Ya, ya, ya, kau benar, tetapi tidak juga. Perpustakaan ini memang tidak akan dioperasikan lagi. Padahal, aku senang sekali saat melihat sebuah tangan mengambil Roman setelah sekian lama. Lihat tempelan stiker di jendela itu. Aku kesal sekali saat pustakawan menempelkan informasi itu," Sari mengasihani Roman yang kini tangisannya sudah tidak terdengar lebih kencang dari sebelumnya. "Pada akhirnya, kita akan dibiarkan tertidur sampai jadi debu," seru Filo yang sedari tadi hanya menyimak. Ketebalannya hampir menandingi Kalkulus. Buku itu mengukur sebesar apa pembahasan tentang cara hidup manusia berdasarkan pemikiran lebih dalam tentang apa artinya hidup. Dulu, dia membuat pembacanya bertanya-tanya tentang hal-hal primitif. Tidak dengan sekarang, karena kini tangan dan mata sudah beralih ke gawai canggih keluaran terbaru. "Aku percaya sekali pada pembaca itu. Melihatnya meraihku dengan tangan terbuka, kukira dia akan berbinar-binar jatuh cinta seperti dulu aku memikat hati mereka." "Haduh! Roman... Roman... kamu ini tidak mengambil pelajaran dari diriku, ya?" sentak Kalkulus. "Kau dengar, aku dulu dijunjung tinggi karena ilmu pengetahuan sepertiku dianggap emas bagi pusat pikiran. Dulu, aku paling banyak dicari dan dijamah sana-sini. Namun, sekarang aku sudah tak merasakannya lagi. Aku lebih sering batuk-batuk karena debu-debu sialan ini. Kini tangan mereka lebih tertarik dengan layar-layar cerah dan canggih itu," Kalkulus bicara kesal sembari mengibaskan debu-debu yang hinggap di sampulnya. Filo mencari-cari posisi ternyaman untuk memejamkan mata kembali. "Saat ini, percaya kepada manusia adalah hal yang tabu, Roman. Dunia sudah berubah, banyak hal bisa ada hanya dengan sekali tekan. Beberapa manusia bersusah payah mencari makna hidup." "Tentu saja aku buku yang paling dirugikan saat ini. Tak akan ada lagi yang penasaran dengan buku resep masakan. Mereka sudah punya tutor yang bisa dibawa ke mana-mana. Bahkan, kurasa aku lebih baik bergabung di kotak daur ulang." Sari menarik napas panjang, lalu perlahan menutup lembaran tubuhnya yang mulai menguning. Tanpa ragu lagi, ia menjatuhkan dirinya dari ketinggian rak, langsung tenggelam ke dalam kotak daur ulang yang sudah lama menunggunya di lantai, membuat kawanan buku lain ikut tergulung dalam kesedihannya. "Oh, tidak! Sari!" "Kotak daur ulang itu seperti senjata semu. Entah kita akan terbuka kembali di tempat baru yang lebih ramai pembaca atau di pabrik peleburan kertas yang penuh dengan benda-benda tajam." "Tubuhku sudah sangat usang dan lapuk. Setidaknya kotak itu memberi sebuah tujuan, tidak hanya berdiam diri dalam balutan debu ini sampai manusia memahami." Kalkulus bergerak menuju tebing rak. Ia memutuskan untuk memiliki tujuan itu. Ia melipat ujung halamannya sendiri, seolah-olah sedang memeluk dirinya yang kesepian, lantas ikut menjatuhkan diri bersama Sari. Tidak jauh dari sana, seonggok buku yang sampulnya sudah terkoyak menyaksikan kepergian itu dengan nelangsa. Manusia telah memberikan kekecewaan yang panjang padanya. "Oh, diriku yang malang..." Roman bergerak mengikuti Kalkulus. "Aku ikut!" Ia meluncur bebas ke dalam kegelapan kotak itu, menyusul sahabat-sahabatnya demi sebuah takdir baru yang belum pasti. Rak nomor sembilan itu mulai bergoyang-goyang sedari tadi para penduduknya menyimak kejadian itu. Nasib mereka satu pena, ditulis di atas kertas yang sama. Buku-buku di sana mulai meronta dan menangis sendu, lantas satu per satu mengikuti jejak Sari. "Aku juga akan memiliki tujuan!" seru satu buku sebelum melompat ke dalam kotak daur ulang itu. "Aku juga." "Aku ikut juga," yang lainnya ikut berseru dan melompat bergiliran, memenuhi kotak tujuan itu bersama cahaya yang mulai meredup perlahan. Panasnya hari berganti ke dinginnya malam yang menusuk ke setiap lembar halaman mereka. Perpustakaan bergetar hebat, buku-buku di sana bergerak-gerak tak terkendali ikut meraung dengan kesedihan mendalam. Seolah semuanya lebih baik ikut masuk ke dalam kotak tujuan yang menyesakkan itu. Buku-buku di dalamnya saling melindungi satu sama lain, saling memeluk nestapa yang menyelimuti. Untuk satu hal yang pasti, sinar rumah pengetahuan itu perlahan menyerah pada kesepian. Di sudut rak nomor sembilan yang sudah hampir kosong penduduk itu, Filo masih tetap pada posisinya. Tertidur kembali sampai debu-debu menyelimutinya dan rayap-rayap mulai bersarang di lembaran tebalnya. "Pada hakikatnya, kita adalah ilmu pengetahuan yang tugasnya dipahami manusia, bukan kita yang memahami manusia." Hingga perlahan ia akan lenyap bersama pertanyaan: apa maknanya hidup? Selesai.

💬 Obrolan Siswa